Jumat, 15 April 2022

Aksi Nyata modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak pada murid

Calon guru penggerak angkatan 3 kab. Jember
Ana Muslikha 
SMP IT Ibnu Sina Wuluhan

Aksi nyata modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak pada murid

Refleksi aksi nyata modul 3.3

1.      PERISTIWA (FACT)

a.      Tujuan  

Menciptakan karakter peduli lingkungan, menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan di sekitarnya serta menangani dengan prinsip ekologi yang dikenal dengan istilah 4R, yaitu recicle, reuse, reduce, repair.

                                              

b.      Latar belakang

Kebersihan sebagian dari iman, begitulah hadist Rasulullah Saw yang menjadi pedoman kami dalam menyikapi terkait kebersihan. Sekolah kami merupakan sekolah yang berlandaskan agama Islam yang mana kami sangat yakin akan hadist tersebut sebagai pedoman kami terkait kebersihan. Kebersihan merupakan salah satu kegiatan kami dalam memperhatikan lingkungan sekolah kami. 

Sebelum memprogramkan Gerakan kebersihan SMP IT ibnu sina ini kami telah mempelajari terkait pencemaran yang terjadi baik di lingkungan sekola maupun di sekitar tinggal siswa. Dari permasalahan tersebut tumbuhlah kepedulian kita untuk mampu menjadi agen perubahan lingkungan. Gerakan kebersihan ini hanyalah salah satu gerakan awal kami untuk memulai menjadi agen perubahan lingkungan di sekitar kita. Pengelolaan sampah adalah salah satu tugas kami untuk mampu memlah sampah sesuai jenis sampah yang ada di sekolah.

Sekolah kami merupakan sekolah yang sangat dekat sekali dengan lingkungan persawahan serta sungai, oleh karena itu sebagai siswa yang pasti membeli aneka jajanan dikantin sekolah, pastinya akan meninggalkan sampah yang lumayan banyak. Sampah yang berada di sekolah yakni sampah plastik, sampah organik, serta sampah kertas. Dari ketiga jenis sampah tersebut, pengelolaan sampah di tempat kami masih mencampur semua sampah menjadi satu, padahal kalau kita pisahkan sesuai jenianya akan mampu mengurangi sampah serta mampu mengelola sampah lebih efektif.

Pengelolaan sampah yang benar memang belum atau jarang sekali kita temui dalam lingkungan masyarakat, untuk itu kami akan memulai program yang paling sederhana dulu yakni dengan mengelola serta memilah sampah sesuai jenisnya.

a.      Pelaksanaan aksi nyata

Kami awali dengan berdiskusi bersama untuk merencankan aksi nyata dalam bentuk program kebersihan, langkah awal ini telah kami rencankan setelah pembelajaran pencemaran lingkungan berlangsung sebagai hasil kepedulian kami kepada lingkungan.

Setelah direncanakan, siswa mengungkapakan suaranya untuk memulai kebersihan ini dari hal yang sederhana yakni pemilahan sampah sesuai jenisnya. Perencanaan tersebut berlanjut membuat kesepakatan bersama untuk menentukan alat dan bahan yang diperlukan untuk program kebersihan. Kesepakatan tersebut berisi tentang penyiapan alat dan bahan yang digunakan untuk keperluan kebersihan didanai oleh uang kas kelas sehingga alat yang dibutuhkan dapat terlengkapi.

Selanjutnya bahan-bahan yang dibutuhkan sudah mencukupi sehingga kami harus menata dan menyimpannya dengan baik. Pemilahan sampah menurut jenisnya diawali dengan pemberian label pada keranjang sampah yang tersedia. Ada 3 macam keranjang sampah yang kami beri label yakni sampah organik, sampah anorganik dan sampah kertas.

Sebelumnya kami telah mendiskusikan program ini untuk dapat terealisasi di lingkungdan sekolah. Siswa sangat antusias untuk melaksankan program tersebut karena mereka sendiri ingin menjadi age perubahan lingkungan.

 

b.      Hasil aksi nyata

Diketehui bahwa ide gerakan kebersihan sekolah dengan cara memilah sampah adalah wujud aksi nyata siswa untuk merealisasikan apa yang mereka pelajari ketika pembelajaran pencemaran lingkungan. Hasil aksi nyata tersebut yakni mewujudkan gerakan kebersihan sekolah yang diawali dengan pemilahan sampah sesuai jenisnya. Sesuai latar belakang di atas siswa siswi sekolah SMP IT masih kurang peduli serta belum tahu betul cara mengelola dengan memilah sampah sesuai jenisnya. Untuk itu kami beserta siswa memulai dari hal yang paling sederhana dalam kebersihan lingkungan dengan cara memilah sampah sesuai jenisnya yakni sampah organik, sampah anorganik serta sampah kertas. Pengelolaan selanjutnya adalah cara membuang sampah dan mendaur ulang sampah yang masih  bisa digunakan. Namun hal ini masih akan berlanjut setelah program ini berjalan dikemudian hari.

Siswa mulai terbiasa membuang sampah sesuai jenisnya, sampah dilingkungan sekolah hanya berupa sampah plastik, gelas plastik, anorganik, serta kertas. Jadi dengan adanya tempat sampah yang beragam sesuai jenisnya akhirnya para siswa mampu memilah sampah dan dibuang ketempat sampah yang sesuai jenisnya. Hal ini tentu membuat siswa memiliki kebiasaan positif alam mengelola sampah.   

 


Berdiskusi bersama dengan siswa merencanakan program GerBiSIT

Mempersiapkan alat dan bahan seperti tempat sampah
Membuat kesepakatan kelas terkait gerakan kebersihan 

Memilah sampah sebagai agen perubahan lingkungan
  1. 1   PERASAAN (FEELING)

    Sebagai guru mata pelajaran IPA, mata pelajaran ini sangat berkaitan dengan pembelajaran lingkungan. Pada materi kelas 7 salah satunya adalah pembelajaran terkait lingkungan, baik pencemaran lingkungan maupun akibat pencemaran seperti global warming. Lingkungan merupakan tempat tinggal kami, sebagai manusia lingkungan merupakan ekosistem yang sangat berkaitan erat dengan lingkungan tempat tinggal kami. 

    Perasaan kami ketika mempelajari materi tersebut, membuat kami ingin mengadakan sebuah program yang berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan terutama lingkungan sekolah. Program kami muncul setelah kami memahami perubahan perilaku manusia terkait kebersihan lingkungan. Sebagai siswa SMP kami merencanakan gerakan kebersihan lingkungan yang kami namai dengan "Gerbisit" gerakan kebersihan SMP IT

    Siswa SMP IT sangat antusias sekali dalam gerakan kebersihan tersebut, terutama pemilahan sampah sesuai kategori seperti sampah organik dan anorganik. 

     

    2.      PEMBELAJARAN (FINDING) YANG DIDAPAT DARI KESELURUHAN AKSI BAIK KEGAGALAN MAUPUN KEBERHASILAN

    Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab setiap manusia, siswa SMP memiliki tanggung jawab atas pencemaran sampah di lingkung dan sekolah mereka. Banyak sekali hikmah yang dapat diambil dari gerakan kebersihan SMP IT yakni:

    a.      Siswa mampu menjaga kebersihan sekolah

    b.      Siswa mampu memiliki rasa tanggung jawab terhadapa lingkungan terutama dalam hal mengelola sampah

    c.       Siswa mampu memilah sampah sesuai jenisnya

    d.      Siswa mulai peduli terhadap masalah sampah serta mampu mewujudkan program yang mereka inginkan sesuai tujuan sebagai agen perubahan lingkungan.

     

    3.      PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE) RENCANA PERBAIKAN DIMASA MENDATANG

    Hikmah yang mereka dapatkan tentunya akan melahirkan ide untuk menerapkan program ini di masa mendatang. Sebagai seorang guru saya berharap dari gerakan kebersihan SMP IT ini, siswa mampu melanjutkan gerakan kebersihan di lingkungan tempat tinggal mereka, Sehingga gerakan kebersihan ini tidak hanya terlaksana di sekolah namun bisa dilaksankan dimanapun mereka berada, terutama lingkungan tempat tinggal mereka. Saya berharap program ini mampu menjadikan lingkungan di masa yang akan datang akan semakin bersih dan mengurangi pencemaran lingkungan serta menjadikan insan yang disiplin serta peduli terhadap lingkungan..

Jumat, 01 April 2022

JURNAL REFLEKSI MINGGU 24

 




 

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 24

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

MODEL REFLEKSI GAYA ROUND ROBIN


OLEH : ANA MUSLIKHA

SMP IT IBNU SINA WULUHAN

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3 KAB.JEMBER 


Apa hal yang paling anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Mengapa hal tersebut bisa membuat anda sangat menguasainya

 

Kepemimpinan  murid merupakan dasar dari filosofi Ki Hajar Dewantara mengenai cara menumbuhkan padi oleh para petani, di sini diibaratkan adalah seorang siswa yang nantinya akan kita tuntun supaya menjadi padi yang bagus. Dan bahkan mampu menjadi padi yang memimpin dirinya sendiri begitu pula  sekolah yang menjadi tempat pembelajaran murid.

Kepemimpinan  murid dapat dibentuk atas dasar kemampuan atau kapasitas seorang murid tersebut untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Peran kita sebagai seorang guru hanyalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat konteks dan kebutuhannya. Sebagai seorang guru kita juga harus mengurangi kontrol kita terhadap mereka, Maka dari itu jika kita melakukan pendampingan maka murid kita akan mampu menjadi student agency yang mana mereka mampu menyuarakan opini, membuat pilihan-pilihan, mengajukan pertanyaan, mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi dalam proses pembelajaran mereka sendiri.

Konsep  kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid itu memiliki kemampuan maupun keinginan secara positif yang nantinya bisa mempengaruhi kehidupan mereka, baik di dalam maupun di luar sekitar mereka. Kepemimpinan merupakan murid yang bertindak secara aktif dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain.

Hubungan seorang guru dan murid hanyalah sebatas kemitraan dalam hal ini kemitraan yang dimaksud adalah guru hanya mampu menuntun tumbuh kembangnya kepemimpinan murid dalam kegiatan belajar mereka. Kepemimpinan murid mampu menjadikan murid sebagai profil pelajar Pancasila yang sebenarnya ini adalah Visi dan harapan Indonesia untuk membentuk karakter warganya di masa mendatang. Kita semua sepakat bahwa murid itu harus mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dari kepemimpinan murid ini maka diharapkan murid akan menjadi pribadi yang merdeka dan juga pribadi yang memerdekakan memerdekakan bangsanya

Kepemimpinan murid harus memberikan proses pembelajaran mereka sendiri dengan kata lain mereka sebenarnya memiliki suara(Voice), pilihan(Choice) maupun kepemilikan(Ownership) dalam proses pembelajarannya. Suara murid merupakan komunikasi yang diutarakan oleh murid untuk membuat keputusan sendiri. Bagaimana murid tersebut ingin belajar, contoh suara murid seperti membangun budaya saling mendengarkan, memberikan kesempatan murid untuk bertanya sharing pendapat berdiskusi dan lain-lain.  Pastinya murid tersebut memiliki suara-suara yang ingin didengarkan oleh orang dewasa.  Pilihan murid merupakan keinginan murid-murid untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran dan mengenalkan pada minat pribadi. Dalam pengalaman belajar, mereka pastinya memiliki pilihan-pilihan yang dirasa cocok dengan mereka, contoh pilihan murid-murid seperti membuka Cakrawala murid bahwa ada berbagai pilihan atau alternatif yang dapat disajikan bahan pertimbangan untuk menentukan sebuah keputusan, atau memberi kesempatan pada murid untuk memilih peran yang didapat mereka dalam sebuah program, memberikan kesempatan bagi murid untuk memilih bagaimana cara belajar yang paling nyaman, aman untuk mereka. Kepemilikan murid merupakan bentuk rasa memiliki tanggung jawab akan suatu pilihan yang diinginkan kepemilikan murid. Disini akan ada hubungannya secara fisik, kognitif, sosial emosional, contoh kepemilikan murid ini seperti meminta pendapat murid untuk menentukan bagaimana bentuk penugasan atau merespon umpan balik yang diberikan. Jadi murid itu merasa bahwa mereka ikut memiliki sebuah program ataupun kegiatan belajar mereka ketika di kelas.

 

Apa hal yang belum anda kuasai stelah pembelajaran hari ini? Apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

 

Hal yang paling sangat kuasai dari materi pengelolaan program yang berdampak pada murid adalah bagaimana cara saya sebagai seorang guru mampu mengajak murid untuk menciptakan sebuah program yang memang diinginkan oleh murid tersebut untuk menjadi agen perubahan. Salah satunya adalah mengetahui lingkungan yang mampu menumbuhkembangkan murid. Lingkungan disini ada yang menggunakan pola positif dan merasakan emosi yang positif. Keterampilan berinteraksi sosial keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan lingkungan menerima dan memahami kekuatan diri mereka sendiri, lingkungan yang menentukan dan menindak lanjuti tujuan, harapan atau mimpi dari suatu individu kelompok maupun golongan, lingkungan yang menempati murid sedemikian rupa sehingga mereka dapat aktif ataupun, lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh. Pengelolaan program ini harus bermitra dengan Tri sentra pendidikan yakni kerjasama antara satuan pendidikan keluarga dan masyarakat Tiganya ini harus saling berhubungan satu sama lain, karena murid di sini pasti berada dalam suatu komunitas baik itu komunitas keluarga, komunitas kelas, komunitas sekolah, komunitas sekitar sekolah dan komunitas yang lebih luas lagi.

Ada beberapa pembelajaran dari pengelolaan program yang berdampak pada murid yang sampai saat ini saya masih belum menguasai. Peran keterlibatan komunitas dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid peran komunitas disini  harus seperti apa model kemitraan, yang selalu berhunungan dengan Tri sentra pendidikan yakni kerjasama antara satuan pendidikan keluarga dan masyarakat yang nantinya akan berdasarkan asas gotong royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk berkorban dalam membangun sebuah program.

Sejauh ini yang saya ketahui murid masih berada dalam lintas komunitas yang ruang lingkupnya masih sempit paling hanya di sekitar komunitas keluarga komunitas kelas maupun komunitas sekolah.

 

Apa yang yang masih membingungkan dari pembelajaran  hari ini? Ceritakan hal-hal apa saja yang membuat hal tersebut membingungkan!

 

Hal yang masih saya membingungkan adalah bagaimana caranya kita sebagai seorang guru mampu menciptakan kemitraan di antara murid dengan komunitas-komunitas yang berada di luar jangkauan seperti halnya komunitas sekitar sekolah. Sampai saat ini sekolah kami masih belum menjangkau lintas lingkungan sekitar sekolah, karena lingkungan kami yang berada di paling ujung dari suatu Desa. Sehingga kemitraan ini masih belum dapat kami lakukan. Kemudian lingkungan-lingkungan yang mampu menumbuhkan kepemimpinan murid ada yang berupa lingkungan yang untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif dalam hal ini terkadang murid itu masih belum mampu mengendalikan emosi. Ketika mereka memiliki masalah di lingkungan keluarga. maka permasalahan tersebut pasti akan dibawa murid tersebut ke sekolah sehingga beberapa program yang seharusnya mampu menumbuhkan jiwa

kepemimpinan murid  malah menjadi tindakan-tindakan yang di luar hal tersebut. Saya memahami bahwa pengelolaan program ini merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan belajar murid di sekolah sehingga murid yang sudah lulus dari sekolah akan mampu beradaptasi dan mampu memiliki pengalaman yang nanti dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka ketika mereka berada di lingkungan masyarakat

Ada beberapa pembelajaran yang masih membingungkan dari pengelolaan program yang berdampak pada murid seperti halnya tadi yang sudah saya ceritakan,   yakni cara yang harus saya lakukan supaya saya mampu mengelola program yang berdampak pada murid walaupun dalam hal yang kecil tapi hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin. Terkadang dalam pengelolaan program ada beberapa guru yang sudah nyaman dengan suara pilihan maupun kepemilikan dari murid tersebut sehingga guru tersebut lalai akan tugasnya untuk memantau. Nah sebagai seorang guru kita tidak boleh lepas tanggung jawab dari seluruh rangkaian program yang sudah berlangsung, guru di sini masih menjadi seorang penuntun karena seorang murid masih membutuhkan seorang penuntun untuk mampu menjadikan murid tersebut mencapai tujuan yang diinginkan.

Beberapa lingkungan yang mampu menumbuhkan jiwa kepemimpinan salah satunya adalah mampu menumbuhkan daya lenting dan sikap aku terkadang murid diperlakukan secara istimewa oleh orang tuanya sehingga semua kebutuhan yang diperlukan oleh murid tersebut selalu disediakan. Terkadang hal-hal yang kecil pun sudah disiapkan oleh orang tua. Bagaimana caranya supaya murid tersebut memiliki daya lenting yang tinggi dan sikap tangguh ketika mereka berada di tengah kesempitan dan kesulitan. Hal ini butuh komunikasi secara insentif kepada orang tua sehingga adanya komunikasi ini mampu merubah mindset orang tua untuk tidak memberikan pelayanan yang mampu membuat siswa tersebut tidak bisa memimpin dirinya sendiri. Ada juga peran keterlibatan komunitas dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan yang masih saya bingungkan disini komunitas untuk orang yang di luar ini masih belum maksimal terkadang sekolah belum mampumenciptakan komunikasi yang baik terhadap lingkungan di luar sekolah, sehingga terkadang ada kesalahpahaman antara pihak luar sekolah dan sekolah yang nantinya kesalahpahaman ini ditakutkan akan memberikan nilai negatif terhadap kegiatan sekolah.

 

SALAM BAHAGIA

MERDEKA BELAJAR

Minggu, 20 Maret 2022

 

ANA MUSLIKHA

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3 KAB.JEMBER


JURNAL REFLEKSI MINGGU 23

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

 

1.    FACTS (PERISTIWA)

Minggu ini saya telah masuk ke materi modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak pada murid, mulai dari diri, eksplorasi konsep serta ruang kolaborasi. Banyak hal yang dapat saya temukan selama mempelajari modul 3.3., seperti halnya kepemimpinan murid yang berkaitan erat dengan profil pelajar pancasila. kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri merupakan arti dari kepemimpinan murid, dengan kata lain murid itu memiliki hak atas perannya sebagai manusia untuk mampu meyuarakan, memilih serta berhak atas kepemilikan setiap keputusan yang diambil.

Profil Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang. Profil Pelajar Pancasila adalah muara dari konsep merdeka belajar dan pemelajar sepanjang hayat yang ingin dibangun lewat upaya penumbuhkembangan kepemimpinan murid. Melalui upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid kita menyediakan kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya. Dikutip dari materi eksplorasi saya lebih memahami bahwa kepemimpinan murid sangat menentukan masa depan murid untuk mampu memiliki Profil Pelajar Pancasila.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Hal ini perlu kita matangkan karena mereka meiliki hak untuk bersuara terhadap tumbuh kembang murid sehingga mereka mampu mengembangkan kapasitas mereka untuk belajar. Hal ini dapat diterapkan pada program kokurikuler, intrakurikuler serta ekstrakurikuler

 

2.    FEELINGS (PERASAAN)

Saya merasa modul ini merupakan puncak dari proses merdeka belajar, karena pengelolaan program yang berdampak pada murid mampu menghasilkan profil pelajar pancasila. Menurut KHD murid itu ibarat padi yang ditanam oleh petani disawah yang nantinya padi tersebut akan selalu dipupuk, dirawat, serta diberi perlakukan yang baik supaya ketika panen nanti padi dapat menghasilkan hasil yang melimpah, sama halnya dengan murid di sekolah , sebagai pendidik kita hanya mampu bisa menuntun tumbuh kembang murid menuju kodratnya, tidak bisa memaksa murid untuk menjadi apa yang kita inginkan. Mereka memiliki suara, pilihan serta kepemilikan yang harus kita dengarkan, kita setujui jawaban mereka atas program yang diinginkan.

Waktu saya masih sekolah SMA dulu saya pernah merasakan hal yang seperti itu yakni siswa diberika kepercayaan untuk mengelola programnya sendiri. Hasil atas program yang saya lakukan tersebut dapat saya rasakan hingga saat ini. Dulu saya diberikan kepercayaan oleh pendidik untuk mengelola bimbingan belajar siswa guna mnyiapkan diri untuk menyambut Ujian Nasional. Saya beserta teman-teman mampu mengelola cara belajar kita dalam suatu kelompok sehingga yang saya rasakan kami memiliki tanggung jawab atas keberhasilan pada belajar kelompok kami. Suatu kebanggaan bahwa suara, pilihan serta kepemilikan kami dihargai oleh pendidik.

Generasi saat ini banyak yang menyebut sebagai generasi strawbery karena buah ini merupakan buah yang ditanam pada tempat yang sangat layak yakni greenhouse. Perlakuan petani pada strawbery sangat spesial, karena buah ini sangat rentan terhadap penyakit maupun iklim yang ekstrem. Sama halnya seperti generasi saat ini, murid banyak dibei perlakuan khusus oleh orang tuanya, disayang, dipenuhi semua keinginannya sehingga kodratnya mereka untuk mampu beradaptasi semakin menurun. Melalui program yang berdampak pada murid saya memiliki kepercayaan penuh bahwa generasi saat ini akan mampu menjadi pribadi yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.

                                  

3.    FINDING (PEMBELAJARAN)

Pembelajaran yang sangat berharga bagi saya sebagai calon guru penggerak. Saya banyak menenmukan ilmu yang mampu saya kembangkan untuk mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Saya yakin dengan terus memberikan kepercayaan kepada murid, bukan tidak mungkin generasi ini akan mampu menjadi generasi emas di masa mendatang.

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.  Peran kita sebagai pendidik adalah:

1.    Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.

2.    Mengurangi kontrol kita terhadap mereka

Perlakuan kita terhadap murid hanya sebatas sebagai penuntun. Kita tidak boleh memaksa perkembangan mereka sesuai kehendak kita atau kontrol kita. Karena saya bisa melihat bahwa mereka meiliki kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui  tindakan yang dibuatnya (Agency). Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan. Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar.



Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.

6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri.
7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
(di sadur dari Noble Noble, T. & H. McGrath, 2016)

Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh , dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas (anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas. (anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)

 

 

 

4.    FUTURE (PENERAPAN)

 

Saya  berharap sebagai pendidik saya mampu mendampingi suara, pilihan serta kepemilikan mereka akan program belajar yang mereka lakukan. Saya hanya sebagai pendamping mereka dalam melaksanakan program tersebut. Aksi nyata saya akan melaksanakan program yang sederhana yang akan saya awali dari mengamati lingkungan sekolah. Pengelolaan program pasti akan kaitannya dengan semua modul sebelumnya yakni pengelolaan semua aset sebagai sumber belajar siswa.

Untuk dapat mempromosikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid dengan komunitas:

1.    Membangun suasana yang menghargai murid.

2.    Mendengarkan murid.

3.    Dialog atau komunikasi dengan murid.

4.    Menempatkan murid dalam kursi pengemudi.

Minggu, 13 Maret 2022

Jurnal refleksi Minggu ke 22

 Jurnal Refleksi Minggu ke 23

Ana Muslikha

CGP Angkatan 3

Kab.Jember








Modul 3.2 pemimpin sebagai pengelola sumber daya

CONNECTION

Sekolah merupakan suatu ekosistem yang sangat kompleks karena didalmnya terdapat berbagai macam interaksi yang membentuk sebuah komunitas. Sekolah pastinya memiliki aset-aset yang terdiri dari biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda mati) yang mana dari aset tersebut kita mampu memetakan seluruhnya sehingga dapat digunakan untuk pengembangan sekolah.

Didalam modul 3.2 ini saya dapat mengetahui aset yang mampu kita petakan. Adapun aset tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Modal manusia merupakan modal utama yang berperan sebagai subjek maupun objek pada suatu kegiatan belajar mengajar. Kita mampu memanfaatkan potensi modal tersebut karena disiplin ilmu mampu kita dapatkan dari pengalaman manusia
  2. Modal fisik merupakan alat fisik yang digunakan untu menunjang fasilitas makhluk hidup
  3. Modal sosial dapat digunakan untuk berkomunkasi bersama warga sekolah
  4. Modal finansial mendukung perbelanjaan sekolah
  5. Modal politik kerjasama bersama lembaga lain
  6. Modal lingkungan atau alam pemanfaatan sumber daya alam
  7. Modal agama dan budaya mengenalkan budaya serta kepentingan agama baik sendiri atau yang lain

    hal yang dapat kita pahami terkait sebagai pemimpin pembelajaran yakni mampu mengelola aset merupakan sebagai potensi sekolah yang bertujuan untuk pengembangan sekolah.

A    adapun hubungan materi ini dengan materi sebelumnya adalah sebagai berikut:

a. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara : Memetakan potensi sekolah yang dimanfaatkan untuk menuntun siswa sesuai kodratnya.

b. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak : Mampu untuk merefleksikan, berinovasi dan mengembangkan kreatifitas serta berkolaborasi dalam melihat aset yang ada.

c. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak : Konsep BAGJA dapat digunakan untuk memulai perencanaan pengelolaan sumber daya.

d. Modul 1.4 Budaya Positif : Memetakan potensi / aset mampu menjadikan para pemimpin pembelajaran mengajarkan budaya positif.

e. Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi: penerapan pembelajaran berdiferensiasi, mampu memetakan minat dan kreatifitas siswa sebagai aset terbaik sekolah.

f. Modul 2.2 Keterampilan Sosial dan Emosional : kemampuan guru dalam keterampilan sosial dan emosional mampu menjadikan siswa yang terampil sehingga dapat menjadi aset sekolah yang terbaik

g. Modul 2.3 Coaching: Metode coaching mampu dipraktekkan guru guna menyelesaikan masalah sehingga mampu juga menemukan aset terpendam dari siswa, guru maupun warga sekolah

h. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran : penerapan konsep pengambilan keputusan dilema etika mampu menghasilakan aset/potensi sekolah menjadi optimal.


CHALLENGE
Adakah ide dari narasumber yang berbeda dengan apa yang sudah anda praktekkan selama ini Dalam pemimpin sebagai pengelolaan sumber daya?

salah satu yang masih syaa ingat dari narasumber intruktur yakni mengembangkan atau memtakan potensi sekolah dengan menerapkan analisi SWOT.

S adalah “kekuatan-kekuatanatau kebebihan  yg dimiliki sekolah yang dapat dioptimalkan agar sekolah dapat tumbuh dan berkembang serta unggul bersaing

W adalah “kelemahan-kelemahanatau kekurangan yg dimiliki sekolah yang menjadikannya sukar/tidak dapat tumbuh dan berkembang serta tidak mampu bersaing.

O = Opportunities  adalah sebanyak mungkin kesempatan atau “peluang-peluangyang dapat diraih dan didayagunakan agar sekolah dapat tumbuh dan berkembang serta mampu menjadi model bagi sekolah lainnya

saya memahami bahwa memetakan potensi aset-aset sekolah dapat menggunakan analisis SWOT. karena analisi ini bertujuan untu memetakan kekuatan yang dimliki sekolah sehingga sekolah mampu menjalankan visi misi sekolah dengan baik.Visi Misi sekolah dapat diperoleh dari hasil memetakan aset sekolah serta dapat juga menggunakan teori BAGJA yang pernah kita pelajari dalam modul 1.3 melalui pendekatan inquiri apresiatif.

CHANGE

kesempatan saya sebagai calon guru penggerak mampu saya lakukan ketika saya termasuk dalam panitia pengembangan sekolah, bahkan pengembangan sekolah ini merupakan pengalaman saya sebagai seorang guru, ditambah materi yang saya ikuti dari program guru penggerak sehingga saya memilik kesmpatan yang baik untuk melaksanakan aksi nyata modul ini.

CONCEPT

Sebagai  pemimpin pembelajaran di sekolah Kita harus mengelola sumber daya yang ada di sekolah. sehingga dari potensi-potensi tersebut kita dapat menggunakan aset sekolah guna menunjang pengembangan sekolah berdasarkan sumber daya yang ada di sekolah ada 7 aset atau potensi yang dapat dikembangkan di sekolah Adapun aset yang dapat dijadikan potensi atau sumber daya sekolah tersebut antara lain :

  1. 1.    Modal manusia
  2. 2.    Modal fisik
  3. 3.    Modal sosial
  4. 4.    Modal finansial
  5. 5.    Modal politik
  6. 6.    Modal lingkungan atau alam
  7. 7.    Modal agama dan budaya

Untuk  menggunakan potensi sekolah tersebut guna mengembangkan Sekolah ada pendekatan yang dapat kita gunakan.

1.    Ada pendekatan berbasis kekurangan atau masalah (Deficit-Based Thinking) dimana pendekatan ini hanya melihat dari cara pandang kekurangan sekolah Jadi hanya memusatkan perhatian kita pada satu modal saja.  Atau dengan kata lain tidak ada cara lain selain dengan menggunakan model tersebut.

2.    Pendekatan kedua yakni berbasis aset (Asset-Based Thinking)yang mana pendekatan ini memusatkan pada kekuatan positif kita akan mengembangkan Sekolah dengan memanfaatkan aset atau potensi yang ada di sekolah tersebut

Cara mengimplementasikan  pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya baik dikelas,sekolah dan masyarakat sekitar adalah dengan bersinergi atau kolaborasi untuk bersama-sama mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan segala aset/potensi yang ada sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.

Mengelola sumber daya adalah dengan, menfokuskan masa depan,Berpikir tentang kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan misi kekuatan dan Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.  


Aksi Nyata modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak pada murid

Calon guru penggerak angkatan 3 kab. Jember Ana Muslikha  SMP IT Ibnu Sina Wuluhan Aksi nyata modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak p...