Minggu, 20 Maret 2022

 

ANA MUSLIKHA

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3 KAB.JEMBER


JURNAL REFLEKSI MINGGU 23

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

 

1.    FACTS (PERISTIWA)

Minggu ini saya telah masuk ke materi modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak pada murid, mulai dari diri, eksplorasi konsep serta ruang kolaborasi. Banyak hal yang dapat saya temukan selama mempelajari modul 3.3., seperti halnya kepemimpinan murid yang berkaitan erat dengan profil pelajar pancasila. kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri merupakan arti dari kepemimpinan murid, dengan kata lain murid itu memiliki hak atas perannya sebagai manusia untuk mampu meyuarakan, memilih serta berhak atas kepemilikan setiap keputusan yang diambil.

Profil Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang. Profil Pelajar Pancasila adalah muara dari konsep merdeka belajar dan pemelajar sepanjang hayat yang ingin dibangun lewat upaya penumbuhkembangan kepemimpinan murid. Melalui upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid kita menyediakan kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya. Dikutip dari materi eksplorasi saya lebih memahami bahwa kepemimpinan murid sangat menentukan masa depan murid untuk mampu memiliki Profil Pelajar Pancasila.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Hal ini perlu kita matangkan karena mereka meiliki hak untuk bersuara terhadap tumbuh kembang murid sehingga mereka mampu mengembangkan kapasitas mereka untuk belajar. Hal ini dapat diterapkan pada program kokurikuler, intrakurikuler serta ekstrakurikuler

 

2.    FEELINGS (PERASAAN)

Saya merasa modul ini merupakan puncak dari proses merdeka belajar, karena pengelolaan program yang berdampak pada murid mampu menghasilkan profil pelajar pancasila. Menurut KHD murid itu ibarat padi yang ditanam oleh petani disawah yang nantinya padi tersebut akan selalu dipupuk, dirawat, serta diberi perlakukan yang baik supaya ketika panen nanti padi dapat menghasilkan hasil yang melimpah, sama halnya dengan murid di sekolah , sebagai pendidik kita hanya mampu bisa menuntun tumbuh kembang murid menuju kodratnya, tidak bisa memaksa murid untuk menjadi apa yang kita inginkan. Mereka memiliki suara, pilihan serta kepemilikan yang harus kita dengarkan, kita setujui jawaban mereka atas program yang diinginkan.

Waktu saya masih sekolah SMA dulu saya pernah merasakan hal yang seperti itu yakni siswa diberika kepercayaan untuk mengelola programnya sendiri. Hasil atas program yang saya lakukan tersebut dapat saya rasakan hingga saat ini. Dulu saya diberikan kepercayaan oleh pendidik untuk mengelola bimbingan belajar siswa guna mnyiapkan diri untuk menyambut Ujian Nasional. Saya beserta teman-teman mampu mengelola cara belajar kita dalam suatu kelompok sehingga yang saya rasakan kami memiliki tanggung jawab atas keberhasilan pada belajar kelompok kami. Suatu kebanggaan bahwa suara, pilihan serta kepemilikan kami dihargai oleh pendidik.

Generasi saat ini banyak yang menyebut sebagai generasi strawbery karena buah ini merupakan buah yang ditanam pada tempat yang sangat layak yakni greenhouse. Perlakuan petani pada strawbery sangat spesial, karena buah ini sangat rentan terhadap penyakit maupun iklim yang ekstrem. Sama halnya seperti generasi saat ini, murid banyak dibei perlakuan khusus oleh orang tuanya, disayang, dipenuhi semua keinginannya sehingga kodratnya mereka untuk mampu beradaptasi semakin menurun. Melalui program yang berdampak pada murid saya memiliki kepercayaan penuh bahwa generasi saat ini akan mampu menjadi pribadi yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.

                                  

3.    FINDING (PEMBELAJARAN)

Pembelajaran yang sangat berharga bagi saya sebagai calon guru penggerak. Saya banyak menenmukan ilmu yang mampu saya kembangkan untuk mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Saya yakin dengan terus memberikan kepercayaan kepada murid, bukan tidak mungkin generasi ini akan mampu menjadi generasi emas di masa mendatang.

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.  Peran kita sebagai pendidik adalah:

1.    Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.

2.    Mengurangi kontrol kita terhadap mereka

Perlakuan kita terhadap murid hanya sebatas sebagai penuntun. Kita tidak boleh memaksa perkembangan mereka sesuai kehendak kita atau kontrol kita. Karena saya bisa melihat bahwa mereka meiliki kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui  tindakan yang dibuatnya (Agency). Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan. Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar.



Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.

6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri.
7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
(di sadur dari Noble Noble, T. & H. McGrath, 2016)

Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh , dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas (anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas. (anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)

 

 

 

4.    FUTURE (PENERAPAN)

 

Saya  berharap sebagai pendidik saya mampu mendampingi suara, pilihan serta kepemilikan mereka akan program belajar yang mereka lakukan. Saya hanya sebagai pendamping mereka dalam melaksanakan program tersebut. Aksi nyata saya akan melaksanakan program yang sederhana yang akan saya awali dari mengamati lingkungan sekolah. Pengelolaan program pasti akan kaitannya dengan semua modul sebelumnya yakni pengelolaan semua aset sebagai sumber belajar siswa.

Untuk dapat mempromosikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid dengan komunitas:

1.    Membangun suasana yang menghargai murid.

2.    Mendengarkan murid.

3.    Dialog atau komunikasi dengan murid.

4.    Menempatkan murid dalam kursi pengemudi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aksi Nyata modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak pada murid

Calon guru penggerak angkatan 3 kab. Jember Ana Muslikha  SMP IT Ibnu Sina Wuluhan Aksi nyata modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak p...