ANA MUSLIKHA
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3 KAB.JEMBER
JURNAL REFLEKSI MINGGU 23
MODUL 3.3 PENGELOLAAN
PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
1.
FACTS
(PERISTIWA)
Minggu ini saya telah masuk ke materi modul
3.3 pengelolaan program yang berdampak pada murid, mulai dari diri, eksplorasi
konsep serta ruang kolaborasi. Banyak hal yang dapat saya temukan selama
mempelajari modul 3.3., seperti halnya kepemimpinan murid yang berkaitan erat
dengan profil pelajar pancasila. kemampuan
atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka
sendiri merupakan arti dari kepemimpinan murid, dengan kata lain murid itu
memiliki hak atas perannya sebagai manusia untuk mampu meyuarakan, memilih
serta berhak atas kepemilikan setiap keputusan yang diambil.
Profil
Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan
harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang.
Profil Pelajar Pancasila adalah muara dari konsep merdeka belajar dan
pemelajar
sepanjang hayat yang ingin dibangun lewat upaya penumbuhkembangan
kepemimpinan murid. Melalui upaya menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid kita menyediakan kesempatan murid untuk
mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat
mewujud
sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka,
namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya. Dikutip dari materi
eksplorasi saya lebih memahami bahwa kepemimpinan murid sangat menentukan masa
depan murid untuk mampu memiliki Profil Pelajar Pancasila.
Saat murid
menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan:
saat murid memiliki agency,
maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice),
pilihan (choice), dan
kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran
mereka.
Hal ini perlu kita matangkan karena mereka meiliki hak untuk bersuara terhadap
tumbuh kembang murid sehingga mereka mampu mengembangkan kapasitas mereka untuk
belajar. Hal ini dapat diterapkan pada program kokurikuler, intrakurikuler
serta ekstrakurikuler
2.
FEELINGS
(PERASAAN)
Saya merasa modul ini merupakan puncak dari
proses merdeka belajar, karena pengelolaan program yang berdampak pada murid
mampu menghasilkan profil pelajar pancasila. Menurut KHD murid itu ibarat padi
yang ditanam oleh petani disawah yang nantinya padi tersebut akan selalu
dipupuk, dirawat, serta diberi perlakukan yang baik supaya ketika panen nanti
padi dapat menghasilkan hasil yang melimpah, sama halnya dengan murid di
sekolah , sebagai pendidik kita hanya mampu bisa menuntun tumbuh kembang murid
menuju kodratnya, tidak bisa memaksa murid untuk menjadi apa yang kita
inginkan. Mereka memiliki suara, pilihan serta kepemilikan yang harus kita dengarkan,
kita setujui jawaban mereka atas program yang diinginkan.
Waktu saya masih sekolah SMA dulu saya pernah
merasakan hal yang seperti itu yakni siswa diberika kepercayaan untuk mengelola
programnya sendiri. Hasil atas program yang saya lakukan tersebut dapat saya
rasakan hingga saat ini. Dulu saya diberikan kepercayaan oleh pendidik untuk
mengelola bimbingan belajar siswa guna mnyiapkan diri untuk menyambut Ujian
Nasional. Saya beserta teman-teman mampu mengelola cara belajar kita dalam
suatu kelompok sehingga yang saya rasakan kami memiliki tanggung jawab atas
keberhasilan pada belajar kelompok kami. Suatu kebanggaan bahwa suara, pilihan
serta kepemilikan kami dihargai oleh pendidik.
Generasi saat ini banyak yang menyebut
sebagai generasi strawbery karena buah ini merupakan buah yang ditanam pada
tempat yang sangat layak yakni greenhouse. Perlakuan petani pada strawbery
sangat spesial, karena buah ini sangat rentan terhadap penyakit maupun iklim
yang ekstrem. Sama halnya seperti generasi saat ini, murid banyak dibei
perlakuan khusus oleh orang tuanya, disayang, dipenuhi semua keinginannya
sehingga kodratnya mereka untuk mampu beradaptasi semakin menurun. Melalui program
yang berdampak pada murid saya memiliki kepercayaan penuh bahwa generasi saat
ini akan mampu menjadi pribadi yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.
3.
FINDING
(PEMBELAJARAN)
Pembelajaran yang sangat berharga
bagi saya sebagai calon guru penggerak. Saya banyak menenmukan ilmu yang mampu
saya kembangkan untuk mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Saya yakin
dengan terus memberikan kepercayaan kepada murid, bukan tidak mungkin generasi
ini akan mampu menjadi generasi emas di masa mendatang.
Agar kita
dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri,
maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan
kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga
potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Peran kita sebagai pendidik adalah:
1.
Mendampingi
murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat,
konteks dan kebutuhannya.
2.
Mengurangi
kontrol kita terhadap mereka
Perlakuan kita terhadap murid hanya sebatas sebagai penuntun. Kita tidak
boleh memaksa perkembangan mereka sesuai kehendak kita atau kontrol kita. Karena
saya bisa melihat bahwa mereka meiliki kapasitas seseorang untuk mempengaruhi
fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan yang
dibuatnya (Agency). Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam
proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru
dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat
kemitraan. Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid
dalam belajar.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik,
diantaranya adalah:
1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir
positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan
untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan
sekelilingnya.
2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara
positif, arif dan bijaksana.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam
proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri,
sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti
tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui
pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.
6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid
sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri.
7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk
terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
(di sadur dari Noble Noble, T. & H. McGrath, 2016)
Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam
lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh
, dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas (anggotanya dapat terdiri teman sesama murid,
guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat terdiri dari kepala sekolah, pustakawan,
penjaga sekolah, laboran, penjaga keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin,
dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat
setempat, puskesmas, tokoh agama setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas. (anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat,
dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)
4.
FUTURE
(PENERAPAN)
Saya berharap sebagai pendidik saya mampu
mendampingi suara, pilihan serta kepemilikan mereka akan program belajar yang
mereka lakukan. Saya hanya sebagai pendamping mereka dalam melaksanakan program
tersebut. Aksi nyata saya akan melaksanakan program yang sederhana yang akan
saya awali dari mengamati lingkungan sekolah. Pengelolaan program pasti akan
kaitannya dengan semua modul sebelumnya yakni pengelolaan semua aset sebagai
sumber belajar siswa.
Untuk dapat mempromosikan aspek
suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah beberapa prinsip yang
dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid dengan komunitas:
1. Membangun suasana yang menghargai murid.
2. Mendengarkan murid.
3. Dialog atau komunikasi dengan murid.
4. Menempatkan murid dalam kursi pengemudi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar