ANA MUSLIKHA
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3
KABUPATEN JEMBER
PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
Ekosistem sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua/wali murid, Masyarakat sekitar sekolah. Serta faktor abiotik seperti gedung sekolah, sarpras, finansial.
Sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah Kita harus mengelola sumber daya yang ada di sekolah. sehingga dari potensi-potensi tersebut kita dapat menggunakan aset sekolah guna menunjang pengembangan sekolah berdasarkan sumber daya yang ada di sekolah ada 7 aset atau potensi yang dapat dikembangkan di sekolah Adapun aset yang dapat dijadikan potensi atau sumber daya sekolah tersebut antara lain :
1. Modal manusia
2. Modal fisik
3. Modal sosial
4. Modal finansial
5. Modal politik
6. Modal lingkungan atau alam
7. Modal agama dan budaya
Untuk
menggunakan potensi sekolah tersebut
guna mengembangkan Sekolah ada pendekatan yang dapat kita gunakan.
1. Ada pendekatan
berbasis kekurangan atau masalah (Deficit-Based Thinking)
dimana pendekatan ini hanya melihat dari cara pandang kekurangan sekolah
Jadi hanya memusatkan perhatian kita pada satu modal saja. Atau dengan kata lain tidak ada cara lain
selain dengan menggunakan model tersebut.
2. Pendekatan kedua yakni berbasis aset (Asset-Based Thinking)yang mana pendekatan ini memusatkan pada kekuatan positif kita akan mengembangkan Sekolah dengan memanfaatkan aset atau potensi yang ada di sekolah tersebut
Cara Mengimplementasikan dikelas,sekolah dan masyarakat sekitar
Cara
mengimplementasikan pemimpin
pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya baik dikelas,sekolah dan masyarakat
sekitar adalah dengan bersinergi atau kolaborasi untuk bersama-sama
mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan segala aset/potensi yang ada sebagai
kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam
rangka meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan
pendidikan.
Cara Mengelola
Mengelola sumber daya adalah dengan menfokuskan masa depan. berpikir tentang kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya aset dan potensi untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi misi sekolah serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.
SINTESIS
BERBAGAI MATERI
a. Modul 1.1
Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara : Memetakan potensi sekolah yang dimanfaatkan
untuk menuntun siswa sesuai kodratnya.
b. Modul 1.2
Nilai dan Peran Guru Penggerak : Mampu untuk merefleksikan, berinovasi dan mengembangkan
kreatifitas serta berkolaborasi dalam melihat aset yang ada.
c. Modul 1.3
Visi Guru Penggerak : Konsep BAGJA dapat digunakan untuk memulai perencanaan pengelolaan
sumber daya.
d. Modul 1.4
Budaya Positif : Memetakan potensi / aset mampu menjadikan para pemimpin
pembelajaran mengajarkan budaya positif.
e. Modul 2.1
Pembelajaran Berdiferensiasi: penerapan pembelajaran berdiferensiasi, mampu
memetakan minat dan kreatifitas siswa sebagai aset terbaik sekolah.
f. Modul 2.2
Keterampilan Sosial dan Emosional : kemampuan guru dalam keterampilan sosial
dan emosional mampu menjadikan siswa yang terampil sehingga dapat menjadi aset
sekolah yang terbaik
g. Modul 2.3
Coaching: Metode coaching mampu dipraktekkan guru guna menyelesaikan masalah
sehingga mampu juga menemukan aset terpendam dari siswa, guru maupun warga
sekolah
h. Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran : penerapan konsep pengambilan
keputusan dilema etika mampu menghasilakan aset/potensi sekolah menjadi
optimal.
Perbedaan
Sebelum dan Sesudah Mempelajari Modul 3.2
(Pemimpin dalam
Pengelolaan Sumber Daya)
Sebelum mempelajari
materi pengelolaan sumber daya dengan menggunakan pendekatan berbasis aset saya
lebih cenderung pada Kekurangan, Cenderung menerima apa adanya kekurangan,
tanpa berpikir bahwa ada sisi lain yang bisa dikembangkan. Belum memahami dan
mengenali aset yang ada serta Berpikir berbasis masalah
Sesudah mempelajari
pengelolaan sumber daya saya lebih berfikir bahwa sumber daya sekolah sudah
mampu kita kembangkan guna menunjang pengembangan sekolah, aset sekolah kita
mampu dijadikan sumber daya guna mencapai visi misi sekolah.
Saya cenderung
lebih memikirkan bagaimana mengembangkan aset sekolah guna mendukung kegiatan
belajar siswa sehingga saya tidak perlu berfikir maslah kekurangan yang ada di
sekolah karena kita tidak akan berkembang apabila berfikir masalah, terus
berpikir positif dalam mengelola sumber daya, karena saya juga percaya bahwa
belajar itu bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja serta
menggunakan apa saja yang ada disekitar kita.
2. RENCANA
TINDAKAN AKSI
Rancangan
Tindakan untuk Aksi Nyata
a. Latar belakang
(Apa yang
mendasari Anda membuat rancangan tindakan ini?)
Potensi atau
aset adalah sumber daya yang sangat mendukung kemajuan sekolah, maka sebagai
guru harus bisa memetakan aset sekolah , sehingga bisa berupaya maksimal
pemanfaatan aset untuk mendukung pembelajaran di kelas dengan memanfaatkan
benda nyata guna menuju merdeka belajar.
b. Tujuan
(Apa dampak pada
murid yang ingin dilihat dari rancangan tindakan ini?)
Pemetaan potensi
dan pengelolaan aset dan sumber daya dilakukan untuk memanfaatkan benda nyata
di kelas dan meninngkatkan kualitas pendidikan yag merdeka belajar.
c. Tolak Ukur
(Bukti apa yang
dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik?)
Evaluasi serta
refleksi terhadap proses pelaksanaan aksi nyata
d. Dukungan yang
dibutuhkan
(Apa saja bahan,
alat, atau pihak yang Anda butuhkan untuk menjalankan tindakan? Bagaimana Anda
akan mendapatkannya?
Dalam
melaksanakan aksi nyata diperlukan pemetaan aset lingkungan, alat yang mampu
mendukung terlaksana aksi nyata serta kolaborasi semua pihak di sekolah,
sehingga saya memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah, yakni:
Kepala Sekolah, Rekan
Sejawat, Staf TU, Siswa
e. Linimasa
tindakan yang akan dilakukan
Dalam
melaksanakan aksi nyata, maka saya menyusun prosedur BAGJA pada modul 1.2,
yakni:
1. Buat Pertanyaan atau define :
Guru menggali cita-cita dan harapan tentang kelas impian mereka dengan
mengidentifikasi potensi dan kekuatan:
Apa yang dapat
dilakukan siswa untuk menggunakan benda nyata guna mendukung pembelajaran?
Bagaimana cara mengelola lingkungan supaya pembelajaran mampu menggunakan benda
nyata sebagai pendukung pembelajaran?
2. Ambil Pelajaran atau Discover:
Guru bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan,
misalnya:
Apa benda nyata
yang pernah digunakan siswa untu mendukung kegiatan belajar mereka?
3. Gali Mimpi atau Dream:
Guru menanyakan kepada siswa , menanyakan pendapat setiap siswa tentang
pendapat dan perasaan mereka tentang pengalaman belajar siswa dengan
memanfaatkan benda nyata, contohnya: Seperti apakah siswa mampu belajar dengan
memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar siswa? bagaimana perasaan siswa belajar dengan
memanfaatkan benda nyata ?
4. Jabarkan Rencana atau Design:
Membuat capaian yang masuk akal, misalnya langkah apa yang bisa dilakukan memanfaatkan
benda nyata guna mendukung kegiatan belajar siswa? Bagaimana komitmen siswa dengan belajar
memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar siswa?
5. Atur Eksekusi atau Deliver:
Menyusun kelompok/tim kerja, misalnya siapa saja yang terlibat dan apa peran
masing-masing siswa dengan belajar memanfaatkan
benda nyata guna mendukung kegiatan belajar siswa?
SALAM DAN BAHAGIA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar