Minggu, 20 Maret 2022

 

ANA MUSLIKHA

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3 KAB.JEMBER


JURNAL REFLEKSI MINGGU 23

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

 

1.    FACTS (PERISTIWA)

Minggu ini saya telah masuk ke materi modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak pada murid, mulai dari diri, eksplorasi konsep serta ruang kolaborasi. Banyak hal yang dapat saya temukan selama mempelajari modul 3.3., seperti halnya kepemimpinan murid yang berkaitan erat dengan profil pelajar pancasila. kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri merupakan arti dari kepemimpinan murid, dengan kata lain murid itu memiliki hak atas perannya sebagai manusia untuk mampu meyuarakan, memilih serta berhak atas kepemilikan setiap keputusan yang diambil.

Profil Pelajar Pancasila sebenarnya adalah visi dan harapan Indonesia untuk karakter warganya di masa mendatang. Profil Pelajar Pancasila adalah muara dari konsep merdeka belajar dan pemelajar sepanjang hayat yang ingin dibangun lewat upaya penumbuhkembangan kepemimpinan murid. Melalui upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid kita menyediakan kesempatan murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pelajar Pancasila yang tidak hanya menjadi pribadi yang merdeka, namun juga menjadi pribadi yang memerdekakan bangsanya. Dikutip dari materi eksplorasi saya lebih memahami bahwa kepemimpinan murid sangat menentukan masa depan murid untuk mampu memiliki Profil Pelajar Pancasila.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency, maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Hal ini perlu kita matangkan karena mereka meiliki hak untuk bersuara terhadap tumbuh kembang murid sehingga mereka mampu mengembangkan kapasitas mereka untuk belajar. Hal ini dapat diterapkan pada program kokurikuler, intrakurikuler serta ekstrakurikuler

 

2.    FEELINGS (PERASAAN)

Saya merasa modul ini merupakan puncak dari proses merdeka belajar, karena pengelolaan program yang berdampak pada murid mampu menghasilkan profil pelajar pancasila. Menurut KHD murid itu ibarat padi yang ditanam oleh petani disawah yang nantinya padi tersebut akan selalu dipupuk, dirawat, serta diberi perlakukan yang baik supaya ketika panen nanti padi dapat menghasilkan hasil yang melimpah, sama halnya dengan murid di sekolah , sebagai pendidik kita hanya mampu bisa menuntun tumbuh kembang murid menuju kodratnya, tidak bisa memaksa murid untuk menjadi apa yang kita inginkan. Mereka memiliki suara, pilihan serta kepemilikan yang harus kita dengarkan, kita setujui jawaban mereka atas program yang diinginkan.

Waktu saya masih sekolah SMA dulu saya pernah merasakan hal yang seperti itu yakni siswa diberika kepercayaan untuk mengelola programnya sendiri. Hasil atas program yang saya lakukan tersebut dapat saya rasakan hingga saat ini. Dulu saya diberikan kepercayaan oleh pendidik untuk mengelola bimbingan belajar siswa guna mnyiapkan diri untuk menyambut Ujian Nasional. Saya beserta teman-teman mampu mengelola cara belajar kita dalam suatu kelompok sehingga yang saya rasakan kami memiliki tanggung jawab atas keberhasilan pada belajar kelompok kami. Suatu kebanggaan bahwa suara, pilihan serta kepemilikan kami dihargai oleh pendidik.

Generasi saat ini banyak yang menyebut sebagai generasi strawbery karena buah ini merupakan buah yang ditanam pada tempat yang sangat layak yakni greenhouse. Perlakuan petani pada strawbery sangat spesial, karena buah ini sangat rentan terhadap penyakit maupun iklim yang ekstrem. Sama halnya seperti generasi saat ini, murid banyak dibei perlakuan khusus oleh orang tuanya, disayang, dipenuhi semua keinginannya sehingga kodratnya mereka untuk mampu beradaptasi semakin menurun. Melalui program yang berdampak pada murid saya memiliki kepercayaan penuh bahwa generasi saat ini akan mampu menjadi pribadi yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.

                                  

3.    FINDING (PEMBELAJARAN)

Pembelajaran yang sangat berharga bagi saya sebagai calon guru penggerak. Saya banyak menenmukan ilmu yang mampu saya kembangkan untuk mengelola sebuah program yang berdampak pada murid. Saya yakin dengan terus memberikan kepercayaan kepada murid, bukan tidak mungkin generasi ini akan mampu menjadi generasi emas di masa mendatang.

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.  Peran kita sebagai pendidik adalah:

1.    Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.

2.    Mengurangi kontrol kita terhadap mereka

Perlakuan kita terhadap murid hanya sebatas sebagai penuntun. Kita tidak boleh memaksa perkembangan mereka sesuai kehendak kita atau kontrol kita. Karena saya bisa melihat bahwa mereka meiliki kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui  tindakan yang dibuatnya (Agency). Saat murid menjadi pemimpin dan mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran mereka sendiri, maka hubungan yang tercipta antara guru dengan murid akan mengalami perubahan, karena hubungannya akan menjadi bersifat kemitraan. Di sisi lain, guru yang akan mengambil peranan sebagai mitra murid dalam belajar.



Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya adalah:
1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya.
2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana.
3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya.
4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan.

6. Lingkungan tersebut berkomitmen untuk menempatkan murid sedemikian rupa sehingga aktif menentukan proses belajarnya sendiri.
7. Lingkungan tersebut menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
(di sadur dari Noble Noble, T. & H. McGrath, 2016)

Sebagai pusat dari proses pendidikan, murid ‘berada’ dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh , dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas (anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas. (anggotanya dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR, dsb)

 

 

 

4.    FUTURE (PENERAPAN)

 

Saya  berharap sebagai pendidik saya mampu mendampingi suara, pilihan serta kepemilikan mereka akan program belajar yang mereka lakukan. Saya hanya sebagai pendamping mereka dalam melaksanakan program tersebut. Aksi nyata saya akan melaksanakan program yang sederhana yang akan saya awali dari mengamati lingkungan sekolah. Pengelolaan program pasti akan kaitannya dengan semua modul sebelumnya yakni pengelolaan semua aset sebagai sumber belajar siswa.

Untuk dapat mempromosikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan murid, berikut adalah beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan dalam membangun interaksi murid dengan komunitas:

1.    Membangun suasana yang menghargai murid.

2.    Mendengarkan murid.

3.    Dialog atau komunikasi dengan murid.

4.    Menempatkan murid dalam kursi pengemudi.

Minggu, 13 Maret 2022

Jurnal refleksi Minggu ke 22

 Jurnal Refleksi Minggu ke 23

Ana Muslikha

CGP Angkatan 3

Kab.Jember








Modul 3.2 pemimpin sebagai pengelola sumber daya

CONNECTION

Sekolah merupakan suatu ekosistem yang sangat kompleks karena didalmnya terdapat berbagai macam interaksi yang membentuk sebuah komunitas. Sekolah pastinya memiliki aset-aset yang terdiri dari biotik (makhluk hidup) dan abiotik (benda mati) yang mana dari aset tersebut kita mampu memetakan seluruhnya sehingga dapat digunakan untuk pengembangan sekolah.

Didalam modul 3.2 ini saya dapat mengetahui aset yang mampu kita petakan. Adapun aset tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Modal manusia merupakan modal utama yang berperan sebagai subjek maupun objek pada suatu kegiatan belajar mengajar. Kita mampu memanfaatkan potensi modal tersebut karena disiplin ilmu mampu kita dapatkan dari pengalaman manusia
  2. Modal fisik merupakan alat fisik yang digunakan untu menunjang fasilitas makhluk hidup
  3. Modal sosial dapat digunakan untuk berkomunkasi bersama warga sekolah
  4. Modal finansial mendukung perbelanjaan sekolah
  5. Modal politik kerjasama bersama lembaga lain
  6. Modal lingkungan atau alam pemanfaatan sumber daya alam
  7. Modal agama dan budaya mengenalkan budaya serta kepentingan agama baik sendiri atau yang lain

    hal yang dapat kita pahami terkait sebagai pemimpin pembelajaran yakni mampu mengelola aset merupakan sebagai potensi sekolah yang bertujuan untuk pengembangan sekolah.

A    adapun hubungan materi ini dengan materi sebelumnya adalah sebagai berikut:

a. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara : Memetakan potensi sekolah yang dimanfaatkan untuk menuntun siswa sesuai kodratnya.

b. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak : Mampu untuk merefleksikan, berinovasi dan mengembangkan kreatifitas serta berkolaborasi dalam melihat aset yang ada.

c. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak : Konsep BAGJA dapat digunakan untuk memulai perencanaan pengelolaan sumber daya.

d. Modul 1.4 Budaya Positif : Memetakan potensi / aset mampu menjadikan para pemimpin pembelajaran mengajarkan budaya positif.

e. Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi: penerapan pembelajaran berdiferensiasi, mampu memetakan minat dan kreatifitas siswa sebagai aset terbaik sekolah.

f. Modul 2.2 Keterampilan Sosial dan Emosional : kemampuan guru dalam keterampilan sosial dan emosional mampu menjadikan siswa yang terampil sehingga dapat menjadi aset sekolah yang terbaik

g. Modul 2.3 Coaching: Metode coaching mampu dipraktekkan guru guna menyelesaikan masalah sehingga mampu juga menemukan aset terpendam dari siswa, guru maupun warga sekolah

h. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran : penerapan konsep pengambilan keputusan dilema etika mampu menghasilakan aset/potensi sekolah menjadi optimal.


CHALLENGE
Adakah ide dari narasumber yang berbeda dengan apa yang sudah anda praktekkan selama ini Dalam pemimpin sebagai pengelolaan sumber daya?

salah satu yang masih syaa ingat dari narasumber intruktur yakni mengembangkan atau memtakan potensi sekolah dengan menerapkan analisi SWOT.

S adalah “kekuatan-kekuatanatau kebebihan  yg dimiliki sekolah yang dapat dioptimalkan agar sekolah dapat tumbuh dan berkembang serta unggul bersaing

W adalah “kelemahan-kelemahanatau kekurangan yg dimiliki sekolah yang menjadikannya sukar/tidak dapat tumbuh dan berkembang serta tidak mampu bersaing.

O = Opportunities  adalah sebanyak mungkin kesempatan atau “peluang-peluangyang dapat diraih dan didayagunakan agar sekolah dapat tumbuh dan berkembang serta mampu menjadi model bagi sekolah lainnya

saya memahami bahwa memetakan potensi aset-aset sekolah dapat menggunakan analisis SWOT. karena analisi ini bertujuan untu memetakan kekuatan yang dimliki sekolah sehingga sekolah mampu menjalankan visi misi sekolah dengan baik.Visi Misi sekolah dapat diperoleh dari hasil memetakan aset sekolah serta dapat juga menggunakan teori BAGJA yang pernah kita pelajari dalam modul 1.3 melalui pendekatan inquiri apresiatif.

CHANGE

kesempatan saya sebagai calon guru penggerak mampu saya lakukan ketika saya termasuk dalam panitia pengembangan sekolah, bahkan pengembangan sekolah ini merupakan pengalaman saya sebagai seorang guru, ditambah materi yang saya ikuti dari program guru penggerak sehingga saya memilik kesmpatan yang baik untuk melaksanakan aksi nyata modul ini.

CONCEPT

Sebagai  pemimpin pembelajaran di sekolah Kita harus mengelola sumber daya yang ada di sekolah. sehingga dari potensi-potensi tersebut kita dapat menggunakan aset sekolah guna menunjang pengembangan sekolah berdasarkan sumber daya yang ada di sekolah ada 7 aset atau potensi yang dapat dikembangkan di sekolah Adapun aset yang dapat dijadikan potensi atau sumber daya sekolah tersebut antara lain :

  1. 1.    Modal manusia
  2. 2.    Modal fisik
  3. 3.    Modal sosial
  4. 4.    Modal finansial
  5. 5.    Modal politik
  6. 6.    Modal lingkungan atau alam
  7. 7.    Modal agama dan budaya

Untuk  menggunakan potensi sekolah tersebut guna mengembangkan Sekolah ada pendekatan yang dapat kita gunakan.

1.    Ada pendekatan berbasis kekurangan atau masalah (Deficit-Based Thinking) dimana pendekatan ini hanya melihat dari cara pandang kekurangan sekolah Jadi hanya memusatkan perhatian kita pada satu modal saja.  Atau dengan kata lain tidak ada cara lain selain dengan menggunakan model tersebut.

2.    Pendekatan kedua yakni berbasis aset (Asset-Based Thinking)yang mana pendekatan ini memusatkan pada kekuatan positif kita akan mengembangkan Sekolah dengan memanfaatkan aset atau potensi yang ada di sekolah tersebut

Cara mengimplementasikan  pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya baik dikelas,sekolah dan masyarakat sekitar adalah dengan bersinergi atau kolaborasi untuk bersama-sama mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan segala aset/potensi yang ada sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.

Mengelola sumber daya adalah dengan, menfokuskan masa depan,Berpikir tentang kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut, Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya (aset dan kekuatan) Merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan misi kekuatan dan Melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.  


Jumat, 11 Maret 2022

TUGAS GURU PENGGERAK

 

ANA MUSLIKHA

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3

KABUPATEN JEMBER


 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2

PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA


Ekosistem sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua/wali murid, Masyarakat sekitar sekolah. Serta faktor abiotik seperti gedung sekolah, sarpras, finansial.

Sebagai  pemimpin pembelajaran di sekolah Kita harus mengelola sumber daya yang ada di sekolah. sehingga dari potensi-potensi tersebut kita dapat menggunakan aset sekolah guna menunjang pengembangan sekolah berdasarkan sumber daya yang ada di sekolah ada 7 aset atau potensi yang dapat dikembangkan di sekolah Adapun aset yang dapat dijadikan potensi atau sumber daya sekolah tersebut antara lain :

1.    Modal manusia

2.    Modal fisik

3.    Modal sosial

4.    Modal finansial

5.    Modal politik

6.    Modal lingkungan atau alam

7.    Modal agama dan budaya

Untuk  menggunakan potensi sekolah tersebut guna mengembangkan Sekolah ada pendekatan yang dapat kita gunakan.

1.    Ada pendekatan berbasis kekurangan atau masalah (Deficit-Based Thinking) dimana pendekatan ini hanya melihat dari cara pandang kekurangan sekolah Jadi hanya memusatkan perhatian kita pada satu modal saja.  Atau dengan kata lain tidak ada cara lain selain dengan menggunakan model tersebut.

2.    Pendekatan kedua yakni berbasis aset (Asset-Based Thinking)yang mana pendekatan ini memusatkan pada kekuatan positif kita akan mengembangkan Sekolah dengan memanfaatkan aset atau potensi yang ada di sekolah tersebut


Cara Mengimplementasikan dikelas,sekolah dan masyarakat sekitar

Cara mengimplementasikan  pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya baik dikelas,sekolah dan masyarakat sekitar adalah dengan bersinergi atau kolaborasi untuk bersama-sama mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan segala aset/potensi yang ada sebagai kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.

Cara Mengelola

Mengelola sumber daya adalah dengan menfokuskan masa depan. berpikir tentang kekuatan untuk mencapai kesuksesan tersebut. Mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya aset dan potensi untuk merancang sebuah rencana berdasarkan visi misi sekolah serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

 

SINTESIS BERBAGAI MATERI

a. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Ki Hajar Dewantara : Memetakan potensi sekolah yang dimanfaatkan untuk menuntun siswa sesuai kodratnya.

b. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak : Mampu untuk merefleksikan, berinovasi dan mengembangkan kreatifitas serta berkolaborasi dalam melihat aset yang ada.

c. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak : Konsep BAGJA dapat digunakan untuk memulai perencanaan pengelolaan sumber daya.

d. Modul 1.4 Budaya Positif : Memetakan potensi / aset mampu menjadikan para pemimpin pembelajaran mengajarkan budaya positif.

e. Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi: penerapan pembelajaran berdiferensiasi, mampu memetakan minat dan kreatifitas siswa sebagai aset terbaik sekolah.

f. Modul 2.2 Keterampilan Sosial dan Emosional : kemampuan guru dalam keterampilan sosial dan emosional mampu menjadikan siswa yang terampil sehingga dapat menjadi aset sekolah yang terbaik

g. Modul 2.3 Coaching: Metode coaching mampu dipraktekkan guru guna menyelesaikan masalah sehingga mampu juga menemukan aset terpendam dari siswa, guru maupun warga sekolah

h. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran : penerapan konsep pengambilan keputusan dilema etika mampu menghasilakan aset/potensi sekolah menjadi optimal.

 

Perbedaan Sebelum dan Sesudah Mempelajari Modul 3.2

(Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya)

Sebelum mempelajari materi pengelolaan sumber daya dengan menggunakan pendekatan berbasis aset saya lebih cenderung pada Kekurangan, Cenderung menerima apa adanya kekurangan, tanpa berpikir bahwa ada sisi lain yang bisa dikembangkan. Belum memahami dan mengenali aset yang ada serta Berpikir berbasis masalah

Sesudah mempelajari pengelolaan sumber daya saya lebih berfikir bahwa sumber daya sekolah sudah mampu kita kembangkan guna menunjang pengembangan sekolah, aset sekolah kita mampu dijadikan sumber daya guna mencapai visi misi sekolah.

Saya cenderung lebih memikirkan bagaimana mengembangkan aset sekolah guna mendukung kegiatan belajar siswa sehingga saya tidak perlu berfikir maslah kekurangan yang ada di sekolah karena kita tidak akan berkembang apabila berfikir masalah, terus berpikir positif dalam mengelola sumber daya, karena saya juga percaya bahwa belajar itu bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja serta menggunakan apa saja yang ada disekitar kita.

 

2. RENCANA TINDAKAN AKSI

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

a. Latar belakang

(Apa yang mendasari Anda membuat rancangan tindakan ini?)

Potensi atau aset adalah sumber daya yang sangat mendukung kemajuan sekolah, maka sebagai guru harus bisa memetakan aset sekolah , sehingga bisa berupaya maksimal pemanfaatan aset untuk mendukung pembelajaran di kelas dengan memanfaatkan benda nyata guna menuju merdeka belajar.

b. Tujuan

(Apa dampak pada murid yang ingin dilihat dari rancangan tindakan ini?)

Pemetaan potensi dan pengelolaan aset dan sumber daya dilakukan untuk memanfaatkan benda nyata di kelas dan meninngkatkan kualitas pendidikan yag merdeka belajar.

c. Tolak Ukur

(Bukti apa yang dapat dijadikan indikator bahwa tindakan ini berjalan dengan baik?)

Evaluasi serta refleksi terhadap proses pelaksanaan aksi nyata

d. Dukungan yang dibutuhkan

(Apa saja bahan, alat, atau pihak yang Anda butuhkan untuk menjalankan tindakan? Bagaimana Anda akan mendapatkannya?

Dalam melaksanakan aksi nyata diperlukan pemetaan aset lingkungan, alat yang mampu mendukung terlaksana aksi nyata serta kolaborasi semua pihak di sekolah, sehingga saya memerlukan bantuan pemangku kepentingan di sekolah, yakni:

Kepala Sekolah, Rekan Sejawat, Staf TU, Siswa

e. Linimasa tindakan yang akan dilakukan

Dalam melaksanakan aksi nyata, maka saya menyusun prosedur BAGJA pada modul 1.2, yakni:

1. Buat Pertanyaan atau define : Guru menggali cita-cita dan harapan tentang kelas impian mereka dengan mengidentifikasi potensi dan kekuatan:

Apa yang dapat dilakukan siswa untuk menggunakan benda nyata guna mendukung pembelajaran? Bagaimana cara mengelola lingkungan supaya pembelajaran mampu menggunakan benda nyata sebagai pendukung pembelajaran?

2. Ambil Pelajaran atau Discover: Guru bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi hal-hal yang diinginkan, misalnya:

Apa benda nyata yang pernah digunakan siswa untu mendukung kegiatan belajar mereka?

3. Gali Mimpi atau Dream: Guru menanyakan kepada siswa , menanyakan pendapat setiap siswa tentang pendapat dan perasaan mereka tentang pengalaman belajar siswa dengan memanfaatkan benda nyata, contohnya: Seperti apakah siswa mampu belajar dengan memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar  siswa? bagaimana perasaan siswa belajar dengan memanfaatkan benda nyata ?

4. Jabarkan Rencana atau Design: Membuat capaian yang masuk akal, misalnya langkah apa yang bisa dilakukan memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar  siswa? Bagaimana komitmen siswa dengan belajar memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar  siswa?

5. Atur Eksekusi atau Deliver: Menyusun kelompok/tim kerja, misalnya siapa saja yang terlibat dan apa peran masing-masing siswa  dengan belajar memanfaatkan benda nyata guna mendukung kegiatan belajar  siswa?

 

SALAM DAN BAHAGIA

 


Aksi Nyata modul 3.3 Pengelolaan program yang berdampak pada murid

Calon guru penggerak angkatan 3 kab. Jember Ana Muslikha  SMP IT Ibnu Sina Wuluhan Aksi nyata modul 3.3 pengelolaan program yang berdampak p...